ANALISIS TENTANG KAIDAH ILMU YANG MASUK AKAL KARYA JUJUN SURIA S. SUMANTRI


KAIDAH ILMU YANG MASUK AKAL

(SUATU DONGENG TENTANG PASANG)

OLEH: SRI SUJARWADI

A. PENDAHULUAN

Setiap orang pasti pernah mengamati suatu objek yang membuatnya berpikir mendalam dan kadangkala menunjukkan gejala-gejala yang berada diluar batas akal. Alam memiliki banyak substansi-substansi yang unik. Karena keunikannya ini banyak orang melakukan praduga-praduga yang sesat. Mereka mengkaji tanpa dasar yang jelas dan hanya bisa mengkhayal dan berimajinasi untuk menyimpulkan kebenaran tentang alam. Pengalaman-pengalaman ini memberikan konstelasi bahwa alam memiliki banyak keajaiban dan masih banyak misteri yang belum terungkap oleh manusia.

Ada kalanya manusia menemukan sesuatu yang baru, namun tidak mengetahui bagaimana cara memperolehnya. Mereka hanya mampu menerawang jauh tanpa dasar yang ilmiah. Sehingga menjawab persoalan-persoalan itu hanya dengan indra penglihatan saja. Oleh karena itu, kemungkinan-kemungkinan melakukan kesalahan sangatlah besar bahkan menyesatkan. Untuk itu, kita butuh metode-metode ilmiah untuk menarik kebenaran dari prasangka-prasangka tersebut. Karena harapan kita sebelumnya adalah berusaha agar orang lain menerima atau mengakui bahwa kaidah-kaidah yang kita simpulkan dapat diterima oleh akal sehat.

Di dalam bahasan kaidah ilmu yang masuk akal: suatu dongeng tentang pasang akan di jelaskan secara eksplisit urutan-urutan yang sistematis tentang bagaimana seseorang dapat dikatakan menemukan pengetahuan. Dan apa langkah selanjutnya untuk menjaga eksistensi kebenaran ilmu.

B. SUATU DONGENG TENTANG PASANG

Aris Toteles memberikan identitas kepada manusia sebagai animal rationale. Identitas ini disematkan beranjak dari karakteristik manusia sebagai makhluk yang berpikir. Asal mulanya pengenalan manusia terhadap segala sesuatu disekelilingnya, selanjutnya pemikiran kritis dan kreatif terhadap dirinya sendiri, yaitu hakikatnya sebagai manusia. Kemudian, ia sadar akan perlunya segala pemecahan masalah demi tercapai tujuan hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, masalah merupakan hal yang lumrah dan selalu ada. Fenomena dan  kejadian yang dipandang perlu untuk dipecahkan merupakan dorongan tersendiri bagi manusia untuk mengerahkan segenap kemampuan pikiran, tenaga dan waktu untuk menjawab semua keingintahuan tersebut. Seperti pepatah Socrates mengatakan “cogito ergo sum” aku berpikir, karena aku ada. Selama manusia berpikir, maka pengetahuan dibumi akan terus berkembang dan terus dikaji kebenarannya. Proses berpikir ini nantinya yang akan menentukan bagaimana proses pengkajian suatu fenomena hingga sampai kepada perolehan-perolehan pengetahuan.

Dalam subbab ini diceritakan proses pencarian pengetahuan melalui tiga cara, yaitu: pengamatan, penemuan, dan menarik kesimpulan. Chalmers (didalam Soetriono & SRDm Rita Hanafie: 124) mengungkapkan didalam aliran Naive Inductivism atau lebih dikenal dengan aliran induktif bahwa pembangunan ilmu dimulai dari observasi atau pengamatan. Penarikan kesimpulan pengetahuan harus didasarkan pada hasil observasi pada semua situasi dan tempat. Karena hasil observasi yang hanya melihat dari satu situasi saja tidak bisa digunakan untuk membangun pengetahuan ilmiah.

Selain itu pula, pengamatan secara langsung tanpa melalui pemikiran, maka penelitiannya akan dianggap sia-sia. Sedangkan jika dalam penemuannya seseorang  tidak menggunakan fakta-fakta dari hasil pengamatan maka penelitiannya akan menjadi hampa. Dalam tahap penarikan kesimpulan seorang peneliti haruslah melakukan serangkaian pengujian, sehingga kesimpulan yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam suatu cerita bahwa ada seorang pertapa yang tinggal disebuah pantai yang sangat tekun mengamati pasang naik dan pasang surut air laut. Dengan Kesabarannya, si pertapa mencatat jangka waktu yang digunakan dua pasang naik. Kesimpulan yang dapat dia tarik dari pengamatannya adalah Jangka waktu yang diperlukan dua pasang air laut adalah 12 jam 26 menit. Peristiwa air surut dan air pasang terjadi secara bervariasi dan sistematis dalam waktu 14 hari.

Pada waktu yang bersamaan, petapa lainnya yang tinggal di sebuah gurun sedang melakukan pemikiran mendalam terhadap gaya tarik bumi dan bulan. Sehingga pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa ketika bumi dan bulan melakukan gaya tarik-menarik, maka bulan menghasilkan sistem deformasi bumi yang berkecenderungan permukaan bumi yang dekat dengan bulan akan naik. Perputaran akan menyebabkan kenaikan tersebut berlangsung dua kali dalam sehari  atau dalam tiap 12 jam 26 menit. Kemudian dia menganalisa bahwa andaikan beberapa bagian bumi ini terendam oleh air, maka kekuatan deformasi ini akan menyebabkan air tersebut naik turun tiap 12 jam 26 menit dengan variasi tiap 14 hari dan perbedaan yang bergantian tiap 28 hari. Didorong oleh hasrat membuktikan kesimpulan dari pengamatan mereka, maka kedua petapa ini pun pergi ketempat lain untuk mengamati lebih lanjut objek yang sedang diuji kebenarannya.

Pengamatan, Penemuan Dan Deduksi

Di persinggahan kafilah-kafilah, bertemulah pertapa tersebut dengan seorang penemu hipotesis, teori dan penjelasan. Lalu pertapa tersebut menceritakan semua pengamatannya tentang pasang surut air laut dan bertanya kepada sang penemu, “Apakah menurut anda yang terjadi tentang pasang surut air laut?”. Si penemu menjawab mungkin pasang surut air laut tersebut terjadi karena nafas bumi ataupun mungkin lebih lagi disebabkan oleh bulan. Mendengar perbincangan tersebut datanglah petapa kedua yang konon belum pernah melihat laut mencoba menjelaskan pemikirannya tentang terjadinya naik turun air laut. Pertama-tama bulan menyebabkan pasang disebabkan oleh daya tariknya. Karena bumi berputar pada porosnya maka tiap titik dipermukaan bumi cenderung untuk naik dua kali dalam sehari. Dan bukan itu saja, pengaruh matahari akan menyebabkan pasang itu menjadi lebih kuat setiap 14 hari dan perbedaan yang bergiliran tiap 28 hari. Mendengar penjelasan tersebut petapa pertama heran dan berkata “bagaimana bisa seorang yang belum pernah melihat laut, tapi mampu menguraikan hasil pengamatan dan pemikirannya sejauh itu.”

Pengujian

Pada tahap ini hasil dari buah pemikiran ketiga orang dalam dongeng dipersatukan oleh penonton. Penonton tersebut mengatakan bahwa hasil pengamatan dari kedua petapa dan teori, hipotesis dan penjelasan dari penemu memiliki hubungan yang sangat erat dan saling berkaitan. Penjelasan yang masuk akal dan tidak bersifat kontradiktif dengan pengetahuan ilmiah yang telah diketahuinya diikuti dengan verifikasi secara empiris dan didukung dengan fakta-fakta dalam dunia fisik yang nyata maka dia akan dipercaya. Oleh karena itu, untuk memastikan kebenaran dari semua yang diturunkan oleh hipotesis tersebut, maka untuk menarik kesimpulan yang mempunyai dasar yang kuat, maka pengujian secara empiris terhadap beberapa pantai dalam durasi waktu yang lama harus dilakukan.

Empat Kaidah Prosedur Ilmu

Dongeng diatas merupakan tahap-tahap yang dilakukan dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Tahap-tahap tersebut adalah pengamatan, proses pemikiran, merumuskan hipotesis dan penarikan kesimpulan dari hipotesis yang diajukan. Empat kaidah moral ini memberikan penjelasan bahwa proses pencarian ilmu didasarkan pada penggunaan rasio (akal) dan pengalaman. Pemikiran semata belum mampu memenuhi kesempurnaan kebenaran pengetahuan. Akal harus didukung oleh pengalaman yang berperan dalam menemukan kejadian-kejadian yang sahih di lapangan. Gabungan antara pendekatan rasional dan empiris akan menghasilkan pengetahuan yang konsisten, sistematis, dapat diandalkan, dan mempunyai dasar yang kuat.

Pelajaran moral dalam dongeng pasang surut air laut adalah pertapa yang sebagai pengamat, penemu yang sebagai pemikir, dan penarikan hipotesis yang menggunakan kekuatan pengamatan fakta-fakta alam dan kecerdasannya untuk mengajukan berbagai hipotesis yang mungkin untuk menjelaskan fakta-fakta tersebut. Kemudian dengan menggunakan logika dalam berpikir untuk melakukan deduksi (penarikan kesimpulan) dari setiap hipotesis.

Ketidaksempurnaan Ilmu

Percobaan-percobaan yang dilakukan manusia sebenarnya merupakan trial and error. Melakukan percobaan-percobaan dan kadang kala melakukan kesalahan. Dari kesalahan-kesalahan ini akan terciptanya berbagai pengalaman-pengalaman sebagai upaya untuk memperbaiki setiap kesalahan yang ada. Buah pemikiran yang tercipta nantinya bukan pula suatu pengetahuan yang kebenarannya hakiki. Karena kesimpulan pengetahuan hasil cipta manusia sifatnya tidak permanen. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat menggugurkan hasil temuan tersebut dengan temuan-temuan terbaru.

Dari pengalaman inilah kita bisa berupaya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada karena kita tahu bahwa ilmu pasti tidak lepas dari ketidaksempurnaan. Dan sebenarnya kesempurnaan itu terdapat pada kemampuan untuk mencapai suatu yang baru dan lebih bermakna dalam rangka menggugurkan suatu pendapat yang sebelumnya sangat kita hargai.

Hakekat Berteori

Kita menyadari bahwa banyak sekali fakta-fakta alam yang tak dapat diamati secara langsung, baik karena gejala itu tak dapat kita tangkap oleh indra atau karena dimensinya sangat kecil, maupun karena hal itu sudah lama terjadi dan takkan berulang lagi. Untuk itu, teori merupakan kerangka jawaban untuk menyusun dan menjawab semua keraguan akan luputnya pengetahuan yang akan dicari. Teori itu sendiri adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi-proposisi yang berhubungan satu sama lain, yang menunjukkan fenomena secara sistematis dan bertujuan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena (Soetriono & SRDm Rita Hanafie: 142). Teori mempunyai peranan dalam pengembangan ilmu, yaitu:

1. Teori sebagai orientasi

Memberikan suatu orientasi kepada para ilmuan sehingga dengan teori tersebut dapat mempersempit cakupan yang akan ditelaah sedemikian rupa sehingga dapat menentukan fakta-fakta mana yang diperlukan.

2. Teori sebagai konseptual dan klasifikasi

Dapat memberikan petunjuk tentang kejelasan hubungan antara konsep-konsep dan fenomena atas dasar klasifikasi tertentu.

3. Teori sebagai generalisasi (summarizing)

Memberikan rangkuman terhadap generalisasi-generalisasi empirik dan antar hubungan dari berbagai proposisi (teorema: kesimpulan umum yang didasar pada asumsi-asumsi tertentu, baik yang akan diuji maupun yang telah diterima).

4. Teori sebagai peramal fakta

Teori membuat prediksi-prediksi tentang adanya fakta dengan membaut ekstrapolasi dari yang sudah diketahui kepada yang belum diketahui

5. Theory points to gaps in our knowledge

Teori menunjukkan adanya kesenjangan dalam pengetahuan kita. Sepandai-pandainya teori tentu tidak dapat secara lengkap menyusun teori yang telah menjadi pengetahuan itu yang dengan demikian memberi kesempatan kepada kita untuk menutup kesenjangan tadi dengan melengkapi, menjelaskan dan mempertajamnya (Soetriono & SRDm Rita Hanafie: 143).

Dari keterangan-keterangan tersebut ternyata jalinan antara fakta dan teori dan antara teori dan ilmu merupakan jalinan yang erat menurut keteraturan suatu sistem. Oleh sebab itu, penemuan hipotesis bukan saja sesuatu yang tidak lengkap namun juga tanpa jaminan bahwa hipotesis itu benar. Oleh sebab itu, setelah berbagai hipotesis ditemukan, maka langkah selanjutnya menentukan mana dari hipotesis-hipotesis tersebut yang benar dan menyatakan bahwa fakta-fakta yang tidak tertangkap oleh indra tersebut memang benar-benar ada. Hal ini dilaksanakan dalam dongeng tentang pasang, yaitu mendeduksikan secara mental semua konsekuensi logis dari masing-masing hipotesis dan kemudian mencocokannya dengan fakta-fakta yang relevan.

Kepercayaan dalam ilmu

Kepercayaan merupakan faktor yang penting dalam usaha-usaha yang berani menyelidiki fakta yang tertangkap dalam indra. Dalam bidang bukan ilmu, kepercayaan itu adalah ganjil, fantasi, tidak bertanggung jawab dan tidak koheren, sedangkan dalam bidang ilmu ia teratur, terkontrol, rasional dan koheren. Pemecahan masalah pasang menyangkut kepercayaan terhadap kekuatan gravitasi yang menyebabkan dua benda bulan dan bumi berada dalam situasi tarik menarik. Seandainya kepercayaan tersebut tidak ada pada diri peneliti tersebut, maka tidak akan mungkin terjadi pengkajian dan penalaahan lebih lanjut tentang kebenaran ilmu. Kepercayaan inilah yang akan memperkuat dalil bahwa sesuatu yang kelihatan tidak masuk akal akan dibuktikan menjadi pengetahuan yang luar biasa dan siap dipakai oleh dunia.

Hakekat pembuktian ilmu

Sebenarnya dari semua hal diatas, apa hubungannya dengan pasang surut? semua sifat-sifat itu adalah jelas mencirikan kegiatan keilmuan, begitupun yang terjadi dalam dongeng pasang surut air laut. Hal tersebut disebabkan oleh masalah yang diselidiki, sifat itu tidak terletak dalam pokok permasalahan yang diselidiki namun terletak dalam metode yang dipakai. Metode-metode itu adalah sifat yang masuk akal, yakni semangat untuk menyelidiki secara bebas, dimana tak terdapat penyataan apapun yang diterima tanpa pengkajian yang saksama, dimana kesimpulan yang ditemukan terus digali dan diobservasi terus menerus. Ilmu dapat digugurkan dengan penemuan-penemuan baru yang lebih masuk akal. Oleh karena itu, ilmu memiliki sifat yang tidak berkesudahan dan terus dikaji kevalidan secara berkelanjutan.

Hakikat Metode Ilmiah

Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.

Metode ilmiah adalah salah satu bentuk pemecahan masalah secara realistis atau nyata. Oleh sebab itu untuk menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pemecahan suatu masalah adalah sebagai berikut :

1)    Perumusan masalah

2)    Penyusunan kerangka berpikir

3)    Perumusan hipotesis

4)    Melakukan pengujian dengan percobaan

5)    Pengumpulan data

6)    Analisis data

7)    Menarik kesimpulan

C. KESIMPULAN

Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan kaidah-kaidah yang diperoleh dari usaha-usaha yang sistematis dan proses ilmiah sehingga mendapat pengakuan kebenarannya oleh banyak orang. Ilmu pengetahuan sampai pada penarikan kesimpulan berpijak dari proses-proses yang panjang dan berkelanjutan. Karena sifat ilmu yang kebenarannya dapat di gugurkan oleh kebenaran baru yang lebih masuk akal dan lebih bermakna, maka ilmu dari hasil olah pikir dan pengalaman-pengalaman manusia ini sifatnya tidak hakiki alias tidak selamanya bertahan.

Prosedur pencarian ilmu pengetahuan dapat kita lihat dari dongeng tentang pasang. Pada awalnya karena rasa kekaguman dan keheranan, timbul di dalam diri untuk melihat secara seksama gejala-gejala yang muncul. Usaha ini yang di namakan dengan tahap observasi. Dan selanjutnya karena rasa penasaran dari hasil pemikiran yang mendalam, maka muncul keinginan untuk menguji kebenaran dari hipotesis yang telah dirumuskan tersebut. Untuk menguji hipotesis-hipotesis tersebut, kita harus mengintegrasikannya dengan teori-teori yang ada agar pengkajian yang dilakukan tidak mengambang dan menerawang jauh karena prasangka-prasangka yang tidak berdasar. Kemudian dilakukanlah uji hipotesis secara empiris dengan meneliti secara langsung terhadap objek yang berbeda dan dalam waktu yang lama. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang valid dan reliabel bahwa laut memiliki gejala-gejala yang telah digambarkan sebelumnya.

Namun, proses pencarian ilmu yang sesungguhnya adalah berusaha untuk menggugurkan setiap kebenaran ilmu yang telah diungkapkan sebelumnya, meskipun akan memunculkan berbagai tekanan (pressure) maupun rasa sakit akibat digugurkan, tetapi ini yang membuat ilmu itu menarik untuk dikaji.

DAFTAR PUSTAKA


Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (PT Gramedia: Jakarta, 1981)

………………………….., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Pustaka Sinar Harapan: Jakarta, 2009)

Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Tiara Wacana Yogja: Yogyakarta, 2007)

Soetriono & SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, (ANDI Yogyakarta: Yogyakarta, 2007)

http://hatetepes.blogspot.com/2009/02/serpihan-buku.html

http://ryanzhi.blogspot.com/

 

KECENDERUNGAN GLOBALISASI DALAM PEMANFAATAN TIK UNTUK PENDIDIKAN


 OLEH: SRI SUJARWADI

MAHASISWA TEKNOLOGI PENDIDIKAN PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

A. Pendahuluan

Revolusi teknologi merupakan sebuah tantangan besar bagi dunia pendidikan. Prof. Dr. M. Mastuhu (2007), globalisasi memberi peluang dan fasilitas yang luar biasa bagi siapa saja yang mau dan mampu memanfaatkannya, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan manusia seutuhnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menciptakan tradisi dan budaya baru dalam peradaban umat manusia. Perubahan yang diakibatkan oleh TIK ini lebih dahsyat dibandingkan dengan perubahan dari era pertanian menjadi era industri yang diawali dengan revolusi Perancis pada tahun 1789. Di antara perubahan itu adalah TIK dapat menjadikan dunia maya menjadi nyata berada di hadapan kita. Dengan hanya termenung di depan komputer pada tempat yang sepi nan sempit, kita dapat membuka cakrawala dunia yang sangat luas (a universe exists behind the computer screen). Dunia tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu, dari kejauhan yang beribu-ribu kilometer jauhnya kita bisa mengungkapkan perkataan, menyampaikan senyuman dan dapat menyalurkan sentuhan lewat tombol-tombol yang ada dalam komputer (we can chat without speaking, smile without grinning; hug without touching). Dengan demikian maka segala aktivitas pendidikan akan lebih mudah dan cepat.

             Di era ini, penggunaan TIK dalam pendidikan menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi jika tidak mau tertinggal dengan negera-negara lainnya. Untuk itu pilar utama sebagai sosok yang mesti dikembangkan adalah pendidik yang paham TIK, sehingga mereka dapat membimbing siswa belajar,  mendesain pembelajaran, menyampaikan materi, bahkan mengevaluasi pembelajaran melalui perangkat teknologi dengan sistem jarak jauh.

For more information click here and please leave your comment!

 

VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN


OLEH: SRI SUJARWADI

MAHASISWA TEKNOLOGI PENDIDIKAN PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

A. PENDAHULUAN

Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrumen yang tidak reliabel atau konsisten.

Statistika yang digunakan untuk menguji hipotesis walaupun telah sesuai dengan hipotesis yang diajukan, skala data dan rancangan penelitian yang digunakan, tetapi ketepatan hasil pengujian masih tergantung pada instrumen penelitiannya. Bila instrumen penelitian yang digunakan validitas dan reliabilitasnya rendah sudah barang tentu kesimpulan dari pengujian hipotesis tersebut tidak tepat. Instrumen harus memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas (handal). Instrumen yang valid berarti instrumen mampu mengukur tentang apa yang diukur, misalnya seseorang ingin mengukur berat badannya, maka alat yang digunakannya adalah timbangan. Termometer adalah alat yang valid untuk mengukur suhu, tetapi tidak valid digunakan untuk mengukur berat badan. Instrumen yang memenuhi persyaratan reliabilitas (handal), berarti instrumen menghasilkan ukuran yang konsisten walaupun instrumen tersebut digunakan mengukur berkali-kali.

Instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Namun, hal ini masih dipengaruhi oleh kondisi objek yang diteliti dan kemampuan orang yang menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Selain memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, instrumen hendaknya memenuhi persyaratan kepraktisan. Artinya instrumen tersebut praktis untuk dilaksanakan, ringkas, mudah dimengerti, dan hemat biaya.

For more information click here and please leave your comment!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.